Tak ada kata terlambat tuk menjadi yang lebih baek.. Diberdayakan oleh Blogger.
???? ? ???? ? ????? ???????

Translate

Minggu, 21 Oktober 2012

KESAKSIAN ANAK ADAM KEPADA ALLOH



“ dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", ( Qs. Al-A’rof 172 )
Ingatkah kita bahwa dahulu kala kita telah memberikan kesaksian kepada Alloh bahwa Alloh adalah pencipta kita sehingga kita tidak akan menyekutukan Alloh dengan yang lainya ?, jika kita tak lagi ingat maka ayat ini Alloh sampaikan kepada kita akan kesaksian tersebut supaya kita kembali tersadar dari kealpaan kita dan supaya kita tidak merugi dikemudian hari.
WAKTU ITU KITA MASIH BERUPA RUH
Meskipun para ulama’ berbeda pendapat dalam menafsirkan kapan pengambilan sumpah itu terjadi, namun semuanya berkesimpulan bahwa kejadian itu terjadi sewaktu diri kita masih berwujud ruh, ruh kita diambil kesaksian oleh Alloh Ta’ala disumpah bahwa kita tidak akan menyekutukan Alloh, dan kita pun telah menyatakan sumpah kita kepada Alloh, sumpah kita ini dipegang dan dijaga oleh Alloh Ta’ala sampai kita membuka mata untuk pertama kalinya setelah ibu kita berjuang untuk melahirkan kita, kemudian lingkungan sekitar kitalah yang sering mengundang kita untuk melalaikan sumpah kita tersebut, hal ini sebagaimana diungkapkan oleh rosululloh sholallohu ‘alaihi wasalam dalah sabdanya :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“ setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitroh ( bertauhid ), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi atau nasrani atau majusi “ ( HR. Ahmad musnad juz 12 hal 104 )

Selain lingkungan, setan juga mempunyai peranan penting untuk melalaikan kita dari sumpah tersebut, setan tidak henti-hentinya menggelincirkan kita dari fitroh kita, sebagaimana firman Alloh dalam hadits qudsi :
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ ، وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ أَتَتْهُمْ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دينهم
“ Aku ciptakan hamba-hambaku dalam keadaan lurus bersih maka setanlah yang memalingkan mereka “ ( HR. Muslimshohih muslim juz 8 hal. 158 dan Ahmad musnad juz 4 hal.162 )
MENEMUKAN KEMBALI SUMPAH YANG TERLUPAKAN
Syaikh Sholih Al-Fauzan menyebutkan bahwa tauhid mengakui Rububiyah Alloh adalah fitroh asli manusia dan syirik merupakan perkara yang datang dikemudian, hal ini telah diterangkan oleh dua hadits di atas, maka bagi mereka yang telah terlampau jauh dilupakan oleh lingkungan dan setan ada baiknya berhenti sejenak untuk merenung dan memikirkan kebesaran Alloh Ta’ala yang terbentang luas di muka bumi, keberadaan alam semesta dan keteraturanya merupakan tanda kebesaran Alloh yang nyata, ketidak mampuan diri kita dalam menahan taqdir juga merupakan hal yang meski kita fikirkan, ketergantungan kita akan karunia Alloh menjadi bukti nyata bahwa memang kita tidak bisa hidup tanpa pertolongan Alloh, terlebih ketika kita dalam keadaan sempit, terhimpit persoalan yang berat, dan kita hampir putus asa namun tiba-tiba pertolongan Alloh datang tanpa disangka-sangka, renungkanlah semuanya maka kita akan menemukan sumpah kita yang hilang ditelan nafsu kita untuk menghias bumi yang sebenarnya kita tidak ada kepentingan untuk itu.
JANGAN MELANGGAR SUMPAH
Cukuplah sesorang divonis telah melanggar sumpahnya kepada Alloh apabila ia berbuat syirik, syirik sendiri maknanya adalah menyamakan Alloh dengan selain Alloh dalam hal-hal yang itu merupakan hak preogratif Alloh, maka syirik ini bisa terjadi dalam bebarapa kasus diantaranya : 
1.      Syirik dalam niyat dan tujuan
Dimana seseorang mempunyai tujuan hidup atau tujuan amalan kepada selain Alloh, semisal seseorang yang melakukan ibadah haji untuk mencari kekayaan, melakukan sholat untuk mengambil simpati dan lain sebagainya dimana ia beribadah dengan niat untuk selain Alloh 
2.      Syirik keta’atan
yaitu ketika seseorang memiliki keta’atan kepada selain Alloh sama nilainya dengan keta’atan kepada Alloh, misalnya ta’at kepada perintah manusia atau jin dalam melakukan ritual-ritual yang bertentangan dengan syari’at tanpa dilandasi hati yang menentang. 
3.    Syirik dalam kecintaan
Sesorang bisa terjerumus kedalam syirik kecintaan apabila ia mempunya kecintaan kepada selain Alloh sama besar cintanya kepada Alloh, misalnya orang yang sangat mencintai keluarganya sehingga ia sering meninggalkan kewajibanya kepada Alloh demi kecintaanya kepada keluarga. 
4.      Syirik dalam bedo’a
Cukuplah seseorang dikategorikan berbuat syirik dalam berdo’a apabila ia menjadikan benda atau orang yang telah meninggal sebagai perantara do’anya, hal ini sebagimana disebutkan oleh Alloh Ta’ala dalam Al-Qur’an :
“ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” ( Qs. Az-Zumar 3 )
Sebagaimana kita ketahui bahwa yang dijadikan pelindung dan perantara berdo’a pada waktu itu diantaranya adalah latta, uzza dan manat.
Pembaca yang dirohmati Alloh, mari kita penuhi sumpah kita kepada Alloh untuk tidak menyekutukan-Nya dengan apapun jua, mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang akan menyesal dikemudian hari ketika Alloh menagih sumpah kita, disaat kita tidak lagi memiliki apa-apa selain penyesalan, semoga Alloh mengukuhkan ima kita sampai ajal menyapa. Amien
Daftar pustaka :
1.      Kitab tauhid Syaikh Sholih Al-Fauzan
2.      Tahdzib Syarh At-Tohawiyah Al-Imam Ali bin Abil Izz Al-Hanafi
3.      Al-Qur’anul-karim
4.      Kitab hadits digital

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar